arrisalah13.blogspot.com - AFGHANISTAN – Salah satu petinggi Al-Qaidah, Abu Dujanah Al-Basya Muhammad bin Mahmud al- Bahthithi, mengajak Ikhwanul Muslimin di Mesir untuk mengambil pelajaran dari penglaman demokrasi yang pahit yang ia selami sekarang ini, ujarnya, Sabtu, 7/12/2013.
Petinggi Al-Qaida itu dalam pernyataan yang dipublikasikan oleh media Al-Sahab yang berjudul Waqafat ma’al Ahdats fi Mishr mengatakan, “Sesungguhnya revolusi dan pengorbanan telah dicuri di depan mata semua orang dengan keterlibatan banyak pihak, agar umat ini tetap berada di tengah-tengah taring para serigala yang terus mencabik-cabik tubuhnya, hingga mimpi dan harapan umat ini pun dicuri” tutur Muhammad.
Mesir adalah korban dari perang yang brutal terhadap Islam dan Muslimin dan hidup di bawah penindasan para thoghut zalim. “Dan kami senantiasa mengikuti setiap apa yang terjadi di negeri Mesir, kami mencintai penduduknya yang Muslim di sana dengan perasaan pedih dan sedih. Kami ingin sekali menolong mereka, jika berada di tengah-tengah mereka untuk melawan para thoghut” lanjut al-Basya.
Al-Bahthithi menambahkan, “Meski jarak yang jauh ini memisahkan, namun tidak menghalangi untuk menyapa dan ikut merasakan serta melaksanakan kewajiban kami kepada mereka. Oleh karena itu aku menulis kata-kata ini untuk berusaha menekankan hal yang penting pada ronde pertarungan baru ini dengan kaum jahat sekuler yang mencengkram negri kita dan rakyatnya.
Dan Allah Maha Tahu atas perkataan kami yang semata-mata memberikan pencerahan dan pengarahan serta menginginkan kebaikan kepada semua, bukan celaan dan caci maki. Na’udzubillah kalau kami demikian”.
.....Maka janganlah engkau matikan ia kecuali di atas hal-hal yang diridhoi Rabb. Dan ketahuilah bahwa syahid itu adalah terbunuh di jalan Allah dan di jalan menolong Al-Haq dan mengembalikan Syari’at Islam. Bukan untuk mengembalikan legitimasi. Itu hanya perpanjangan dari rezim yang telah lalu. Jika ia mengenakan baju lain, maka tidak akan merubah hakikatnya yang menyilisihi syari’at....
“Sesungguhnya apa yang terjadi di Mesir menampakkan wajah hakiki pertarungan ini. Dan Allah ‘Azza wa Jalla hendak menampakkan kebathilan dan pihak-pihaknya. Dengan begitu, haruslah pihak-pihak yang berada di atas al-Haq memberikan perbedaan. Hendaklah kita mengetahui bahwa Allah Ta’ala telah mentakdirkan antara Haq dan Bathil akan terus berperang” tegas Petinggi Al-Qaidah itu.
“Sudah berapa kali Mursi dan Ikhwanul Muslimin serta orang-orang bersamanya berusaha untuk membuat ridho pihak-pihak bathil dan garda kesesatan dari polisi, militer, kaum sekuleris dan Nasrani. Dan hal itu tidak bermanfaat bagi mereka. Mereka tidak mendapatkan ridha mereka.
Karena hal itu dilakukan dengan kemurkaan Allah dan apa yang tidak disyari’atkan oleh-Nya. Dan yang mengherankan, dengan semua kompromi itu, ahlul bathil malah memerangi dan memenjarakan mereka. Ini membuat kami sedih. Ini adalah rahmat Allah agar mereka kembali” lanjut al-Basya.
.......Pengalaman telah membuktikan bahwa jalan demokrasi yang ditempu oleh sebagian orang yang menyangka akan menolong agama Allah dan menegakkan Syari’at hanyalah khayalan belaka. Karena yang Haq sangat gamblang, tidak mungkin lahir dari rahim Bathil......
Dan setelah menyebutkan beberapa poin di antaranya bahwa tidak ada revolusi yang hakiki terjadi di Mesir dan itu diaborsi oleh pihak-pihak thoghut, ia berseru kepada Ikhwanul Muslimin, “Setelah beberapa poin tersebut, saya katakan, sesungguhnya kewajiban yang pertama atas setiap muslim adalah dia mengetahui mengapa ia berkorban dan membela di atas perkara apa yaitu jiwa".
"Maka janganlah engkau matikan ia kecuali di atas hal-hal yang diridhoi Rabb. Dan ketahuilah bahwa syahid itu adalah terbunuh di jalan Allah dan di jalan menolong Al-Haq dan mengembalikan Syari’at Islam. Bukan untuk mengembalikan legitimasi. Itu hanya perpanjangan dari rezim yang telah lalu. Jika ia mengenakan baju lain, maka tidak akan merubah hakikatnya yang menyilisihi syari’at”.
“Jalan yang benar untuk menghadapi serangan besar ini yang dilancarkan oleh pengusung kebathilan adalah menyadarkan rakyat akan kewajibannya untuk menolong Dinullahn, menegakkan Syari’at Islam dan mengarahkan mereka melawan kebathilan ini dengan jalur yang syar’i yang tidak menyelisihi apa yang Allah perintahkan.
Maka wajiblah bagi kita menjelaskan kepada manusia jalan yang benar untuk menolong Dinullah ini. Pengalaman telah membuktikan bahwa jalan demokrasi yang ditempuh oleh sebagian orang yang menyangka akan menolong agama Allah dan menegakkan Syari’at hanyalah khayalan belaka. Karena yang Haq sangat gamblang, tidak mungkin lahir dari rahim Bathil” tegas Muhammad al-Bahthithi, sang komandan.
sumber : voaislam
0 komentar:
Posting Komentar