LIMA PULUH KOTA - Kebanyakan masyarakat desa bertahan hidup dengan merantau, bercocok tanam, atau pun menjadi buruh. Tetapi Dewi Mahyuni (38), lebih memilih untuk tinggal di kampung halaman, mendedikasikan dirinya untuk mengurusi puluhan manula. Sampai sekarang, Dewi mengelola Sasana Tresna Werdha Jasa Ibu (STWJI), sebuah panti jompo di Desa Sarumpun, Luhak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.Panti jompo itu sebenarnya adalah rintisan My Dt Mrj Nan Gamuak, sang ayah dan Khuzaimah, ibunya. Sejak 22 Desember 1982—panti jompo itu dibangun—Dewi merasakan keprihatinan orang tuanya terhadap banyaknya manula berusia 60 tahun ke atas yang masih mencari nafkah. ”Usia seperti mereka seharusnya sudah di rumah dan fokus beribadah. Kalau bekerja terus-terusan kesehatan mereka pasti terabaikan,” ujarnya.
Pada mulanya, rasa keprihatinan itu diapresiasikan dalam bentuk memberi santunan kepada beberapa manula di sekitar tempat tinggal Dewi. Kebetulan, pada tahun itu, ada program ABRI Masuk Desa. Program itu dipakai untuk meringankan beban membangun sebuah gedung pertemuan. Gedung inilah cikal bakal STWJI dan berkembang sampai sekarang.
Penghuni STWJI kini sudah lebih dari 25 orang manula yang berusia antara 60-99 tahun. Setiap hari, Dewi dan beberapa orang lainnya dengan sabar mengurusi penghuni panti. ”Yang penting memang sabar. Karena beberapa sudah susah mendengar, ngomongnya juga tidak jelas, dan kadang seperti anak-anak,” jelas Dewi.
Untuk mengelola STWJI, Dewi benar-benar hanya mengandalkan bantuan dari masyarakat sekitar dan para dermawan, termasuk iuran Rp 3000 per orang sehari dari Dinas Sosial setempat. Dengan suasana yang tenang, penghuni panti pun merasa nyaman dan betah untuk tinggal,
Seperti Zaenab (93), manula asal Payakumbuh. Dari cerita petugas panti, Zaenab sudah menetap selama satu tahun. Sebenarnya Zaenab sudah ada yang merawat di rumah, tetapi karena ada salah satu anaknya yang mengalami gangguan jiwa, Zaenab pun dititipkan di panti. ”Saya senang di sini. Nanti kalau datang lagi mampir ke rumah ya, saya ingin beli lamang di pasar,” kata Zaenab dengan logat Minang yang terbata-bata.
Perjuangan Dewi mempertahankan dan mengelola panti jompo di daerah terpencil dilihat PT Astra Honda Motor (AHM) sebagai kisah yang patut diberi apresiasi. Dewi yang bekerja diam-diam tanpa pamrih layak diteladani. Rombongan Ekspedisi Nusantara Honda Absolute Revo 2012 pun singgah ke rumah sekaligus panti jompo yang dikelolanya. Dewi dihadiahi sebuah motor Honda Absolute Revo, dengan harapan dapat membantu kegiatannya mengurus panti.
sumber : http://www.astra-honda.com

0 komentar:
Posting Komentar