Minggu, 10 Februari 2013

Israel Berencana Buat Zona Penyangga Militer Di Suriah


By on 20.59


Zona penyangga yang sedang direncanakan Israel
Zona penyangga yang sedang direncanakan Israel
 Israel kini sedang mempertimbangkan untuk menciptakan zona penyangga hingga mencapai 10 kilometer di dalam wilayah Suriah untuk melindungi diri dari kelompok mujahidin yang berada di sisi lain perbatasan tersebut.

Proposal, yang telah disusun oleh militer dan dipresentasikan kepada Perdana Menteri Benyamin Netanyahu, dimaksudkan untuk mengamankan perbatasan sepanjang 47 mil terhadap ancaman Islam yang berkembang jika rezim Bashar al-Assad kehilangan kendali atas wilayah tersebut.
Zona penyangga ini akan dimodelkan seperti pada zona keamanan Lebanon, di mana pasukan pertahanan Israel berpatroli bersama-sama dengan tentara Lebanon Selatan, sebuah milisi gabungan, yang berpatroli beriringan hingga 16 mil dalam wilayah Libanon sejak tahun 1985-2000.
“Kami telah mempresentasikan kepada perdana menteri sebuah rencana komprehensif untuk membela perbatasan Israel setelah, atau mungkin sebelum, jatuhnya rezim Assad,” kata seorang sumber yang dekat dengan perencana militer.
“Sebuah zona penyangga diatur dengan bekerjasama bersama penduduk desa setempat yang terletak di jantung masterplan tersebut. Jika wilayah tersebut tidak stabil kami mungkin harus tinggal di sana selama bertahun-tahun.” lanjut sang sumber anonim.
Antisipasi Jabhah Nusrah
Dalam beberapa bulan terakhir kelompok jihad seperti Jabhah Nusrah, yang Washington anggap sebagai organisasi teroris yang terkait dengan Al-Qaeda, dilaporkan telah menyusup di beberapa desa perbatasan. Dua dari desa diantaranya, yaitu desa Breika dan desa Bir Ajam, yang terletak kurang dari satu mil dari perbatasan Israel.
Netanyahu, yang mengunjungi pos terdepan Israel yang menghadap langsung desa pemberontak bulan lalu, menyaksikan pekerja konstruksi mendirikan sebuah tembok baja setinggi 20 kaki (kurang lebih 10 meter, red) di sepanjang perbatasan untuk mengganti pagar yang telah reyot.
“Pagar tua itu baik-baik saja selama lebih dari 40 tahun,” kata sumber militer. “Kami tahu bahwa ada orang kuat di Damaskus (keluarga Assad, red). Tapi sekarang tidak lagi. Tembok baru akan baik kalau sudah siap, tapi tanpa mortir zona penyangga, serangan roket terhadap Israel akan menjadi peristiwa sehari-hari.” tegasnya.
Rencana tersebut memperkirakan akan menempatkan dua brigade infanteri serdadu Israel dan satu batalion tank yang bermarkas di pos-pos perbatasan di wilayah Suriah. Perbatasan saat ini, yang tidak diakui secara internasional, adalah perbatasan yang digambar ulang oleh Israel setelah Perang Kippur Yom pada tahun 1973.
israel-syrian-borderMenurut sumber-sumber pertahanan, intelijen Israel kini mencurahkan semua sumber daya yang tersedia untuk Suriah paska tekanan pada rezim meningkat dan kecemasan Israel jika tetangganya itu jatuh ke dalam kelompok mujahidin.
Serangan udara Israel yang dilakukan pekan lalu, termasuk satu konvoi yang diyakini membawa buatan Rusia  rudal anti-pesawat SA-17, dekat Jamarya, barat laut ibukota Damaskus, tidak akan menjadi yang terakhir, ujar sang sumber memperingatkan.
Majalah Time, mengutip dari pejabat pertahanan Barat, melaporkan bahwa target yang terkena serangan adalah Pusat Studi Ilmiah dan Penelitian di Jamarya. yang telah diidentifikasikan sebagai fasilitas senjata biologi dan penelitian kimia.
Pada Ahad (03/02), televisi pemerintah Suriah menunjukkan rekaman pertama dari kerusakan.Sambil diiringi backsound nada yang suram, kamera menyorot truk, bus dan mobil yang terbakar habis di jalan dengan pohon-pohon dekat rumah.
Urutan terpisah menunjukkan sebuah kantor di mana kursi tertutup oleh pecahan kaca dari jendela hancur.
Keseriusan perhatian Israel tentang konvoi militer dan situs penelitian yang menjadi target serangan, digarisbawahi dalam laporan para pejabat melalui penjelasan singkat tidak hanya oleh Amerika tetapi juga oleh pejabat Kremlin sebelum serangan itu terjadi.
Mayor Jenderal Aviv Kokhavi, kepala intelijen militer Israel, mengunjungi Washington sesaat sebelum serangan itu dan berbicara kepada rekan-rekan di Pentagon dan CIA. Pada saat yang sama Yaakov Amidror, kepala keamanan nasional (staf khusus) Netanyahu, mengunjungi Moskow untuk bertemu dan mem-briefing para pejabat Rusia, yang merupakan sekutu Assad terdekat.
Tidak disebutkan secara rinci dari target tertentu tetapi Rusia telah diperingatkan bahwa Israel tidak akan mentolerir setiap senjata Rusia yang jatuh ke tangan oposisi.
Sampai saat ini, Israel telah berhati-hati untuk tidak ikut campur secara langsung dalam konflik Suriah. Namun ada kekhawatiran meningkat bahwa Iran sedang berupaya untuk mempertahankan pengaruhnya di negara itu apabila rezim Assad jatuh.
The Sunday Times telah mengetahui bahwa  fasilitas sinyal intelijen Iran yang dijaga ketat dekat Dara’a, sekitar tujuh mil dari perbatasan Israel, adalah salah target masa depan Israel.
“Iran masih pemain utama di Suriah,” ujar sumber militer. “Mereka punya sebuah pakta pertahanan dengan Assad dan selama dua tahun terakhir mereka telah mencoba menolongnya. Tapi mereka tahu dia sudah hancur dan ingin memenangkan pengaruh langgeng sebanyak mungkin sebelum dia pergi.”
Stasiun pemantauan Iran hanya terletak 10 mil dari fasilitas serupa Israel di Har Avital.
“Kami tahu mereka sedang memantau komunikasi tentara kita, mengumpulkan intelijen dan mencoba untuk mengakses ke komputer militer kita,” kata sumber itu. “Ini adalah masalah serius bagi pasukan kami.” lanjutnya.
Timbul kesadaran dalam militer Israel bahwa runtuhnya rezim Suriah bisa merusak komitmen jangka panjang yahudi di Suriah.
“Israel akan kehilangan (merindukan) Assad’s,” kata seorang sumber intelijen veteran. Merujuk kepada pegunungan yang membagi Suriah dari Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel, ia menambahkan: “The Assads, ayah dan anak, adalah orang yang sangat jahat. Tapi dengan mereka, kita tahu bahwa janji adalah janji, dan kesepakatan itu kokoh sekokoh batu-batu dari Gunung Hermon.” tegasnya. [fajar]
sumber : An-Najah

0 komentar:

Posting Komentar