Minggu, 03 Februari 2013

Masalah Gaza dan Suriah adalah Perang Akhir Zaman


By on 18.35

Bahtiar Nasir



Bachtiar Nasir : Hamas Sangat Anti Dengan Aqidah Syiah





SEKITAR seminggu yang lalu Bahtiar Nasir,  Presidium Spirit of Al Aqsha, berhasil mengunjungi Jalur Gaza bersama delegasi dari Indonesia. Banyak cerita dan fakta baru terungkap. Ia bahkan sempat bertemu PM Ismail Haniyah dan bersilahturahim para pejuang Izzudin Al-Qassam.

Apa saja catatan-catatan yang menginspirasi kita semua dari Jalur Gaza? Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) inipun membagi kisahnya dalam sebuah wawancara dengan hidayatullah.com. Berikut petikan wawancaranya.*
Apa tujuan Anda ke Gaza kemarin?
Ustad Bahtiar Nasir (UBN): Berangkat ke Jalur Gaza adalah impian sejak dahulu. Sebelumnya saat Israel menyerang Gaza di tahun 2009 saya sudah sangat ingin ke sana. Namun kesibukan berdakwah membuat semua rencana harus tertunda. Gaza adalah bumi ribath (berjaga-jaga di medan jihad, red), setiap orang mukmin harus memilih rasa untuk mengunjungi bumi ribath.  

Pada kondisi perang Gaza sekarang sempat atau tidak, wajib bagi diri saya menyempatkan diri mengunjungi Gaza. Dan ini menjadi salah satu tarbiyah tertinggi. Merasakan ruh jihad, mengambil ruang untuk ikut terlibat dalam tanggung jawab jihad membela Palestina. Bumi ribath tempat kiblat pertama umat Islam. Alhamdulillah sayapun memutuskan berangkat.


Siapa saja yang berangkat bersama ustad?

UBN: Saya berangkat bersama tujuh orang anggota dari komisi I DPR RI. Ada juga 7 orang dari perwakilan media di Indonesia. Ada beberapa NGO Indonesia juga ikut bersama. Saya sendiri mewakili lembaga Spirit Of Aqsha dan sebagai Sekjen MIUMI.

Bagaimana sikap masyarakat Gaza atas kehadiran ustad dan delegasi Indonesia?

UBN: Setelah sampai di Mesir, kami berangkat menuju Gaza menggunakan bis yang disediakan kedutaan besar RI di Mesir. Sampai di Gaza, kami pertama kali disambut secara kenegaraan dengan tata cara yang sangat sederhana. Setelah itu, panita membawa kami langsung ke gedung parlemen Gaza. Parlemen ini semuanya orang Hamas. Ada juga para syaikh-syaikh Jalur Gaza. Meski berumur lanjut semangat jihad mereka subhanallah begitu kuat terasa. Rombongan kami dipimpin oleh Suripto dari KNRP dan Ketua Lomisi I, Mahfudz Shidiq.
Bagaimana kondisi warga Gaza sendiri?
Subhanallah. Berbeda dengan pemberitaan yang ada. Saya tidak menemukan raut kesedihan dalam wajah mereka. Mereka terlihat senang dan gembira. Mendengarkan kondisi Gaza terbaru. Saat saya tiba di Gaza itu bersamaan dengan PBB Menerima status Palestina sebagai negara. Banyak rakyat Gaza merayakan keputusan PBB itu.

Para pemuda dari kalangan Fatah bahkan membuat konvoi keliling kota. Mereka melantunkan lagu-lagu nasyid di atas mobil mereka. Jangan salah, mobil mereka full sound system yang layak.

Namun, saya tidak melihat warga pro Hamas atau Hamas sendiri ikut merayakan kebijakan PBB itu. Alasan utama kelompok Hamas jelas. Mereka menolak solusi dua negara. Hamas tetap berpegang pada perjanjian tahun 1948. Hamas tetap menuntut wilayah Palestina 80 persen dan Israel 20 persen. Saat ini justru terbalik Israel telah merebut 88 persen wilayah Palestina. 

Bagaimana kondisi fisik pasca dibom?
UBN: Secara fisik Gaza tidak terlalu banyak berubah.  Memang ada gedung yang hancur. Tapi alhamdulillah kehancuran Gaza tidak terlalu parah. Sekarang masih jauh lebih baik dibanding serangan Israel tahun 2009.  Satu lagi, masyarakat Gaza juga tidak memiliki rasa takut. Suasana kota tetap tenang. Semua baik-baik saja. Mereka justru bangga bisa berjihad melawan Zionis-Israel. 

Ada yang cukup menarik di sana. Saya menemukan orang-orang dari Jamaah Tabligh (JT) hingga jamaah Salafy ikut berjihad bersama. Secara kuantitas Hamas adalah mayoritas.  Mereka semua berjihad bersama-sama melawan Zionis-Israel.
Pertempuran Gaza kali ini membuat kekuatan umat Islam bisa diukur. Jika tahun 2009 kita perlu 23 hari, kali ini kita hanya perlu 8 hari untuk membuat Zionis-Israel ketakutan. Ini berarti perlawanan Jalur Gaza sudah memiliki kualitas yang meningkat.

Siapa saja yang Anda temui?
UBN: Ya saya bertemu PM Ismail Haniyah. Saya menyampaikan langsung amanah umat untuk Palestina. Amanah itu berupa dana. Selain dari Spirit Of Aqsha ada juga titipan dana dari Wahdah Islamiyah.

Ismail Haniyah, subhanallah dia orang yang sangat bersahaja dan rendah hati. Hidupnya sangat sederhana. Untuk ukuran perdana menteri rumahnya sangat sederhana. Mejanya saja hanya terbuat dari plastik.  Di dinding rumahnya ada foto-foto para syuhada Hamas. Selain foto Syeikh Ahmad Yassin ada juga foto Hasan Al Banna dipajang olehnya.

Setiap kali bicara jihad, Ismail sangat bersemangat. Saya sangat  belajar ketawadhu'an beliau. Ketika shalat maghrib, beliau menjadi imam. Suaranya merdu sekali. Bacaannya fasih dan indah.
Apa saja pesan yang disampaikan?
Ada 3 pesan umum dia untuk Muslim di Indonesia. Pertama ia mengingatkan agar persaudaraan dan hubungan bilateral Indonesia jangan terputus.

Kedua, Ismail juga berterima kasih atas dukungan Indonesia kepada Palestina. Indonesia itu baginya jauh di mata tapi selalu dekat di hati. Yang terakhir, ia berharap dukungan dan bantuan Indonesia tetap berkesinambungan.

Apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh Gaza selain bantuan kemanusiaan?

UBN: Yang dibutuhkan Jalur Gaza yang pertama adalah senjata. kedua juga  senjata dan yang ketiga juga masih senjata. Keempat baru mereka butuh bantuan kemanusiaan. Yang kelima adalah doa kita semua.

Jadi salah kalau prioritas membela Gaza adalah kemanusiaan. Gaza itu bumi ribath, bumi jihad. Ini serius. Mereka memang butuh sarana pendidikan, kesehatan dsb tapi senjata lebih penting dan utama di sana.

Bantuan dana untuk persenjataan jauh lebih prioritas bagi mereka. Saat ini Izzudin Al Qassam mampu memproduksi roket sendiri. Dulu jika mereka beli roket dari luar negeri bisa menghabiskan dana kurang lebih 200 USD untuk 1 roket. Jika mereka produksi sendiri biaya produksi bisa  dihemat hingga setengah biaya beli roket ke pihak asing. 
Beberapa media menulis hubungan dan bantuan Iran dengan Hamas?
UBN: Di Gaza memang ada faksi Syiah yaitu Jihad Islam. Tapi jumlah mereka kecil. Hamas paling dominan. Peran Iran di Gaza sangat kecil. Roket yang dipakai menyerang Tel Aviv oleh Izzudin Al Qassam bukanlah roket Fajar 5 milik Iran, tapi 1300 roket Hamas yang masuk ke Tel Aviv itu adalah roket Al Qassam. Roket Al Qassam hanyalah salah satu persenjataan yang teknologinya murni buatan kader-kader Hamas. Selain roket tersebut, Izzudin Al Qassam juga sudah mampu membuat granat hingga bazooka.

Roket Iran memang ada tapi sedikit, itupun banyak dipakai oleh Jihad Islam bukan Hamas. Hamas sudah memiliki teknologi sendiri. 

Yang perlu diingat juga, Hamas menerima bantuan dari Iran bukan berarti mentolerir akidah Syiah-nya.  Kalaupun ada kesepakatan kerjasama itu hanya sebagai manuver politis bukan karena kesamaan akidah.  Satu lagi, bukan hanya Iran, orang Kristen, atheis, komunis atau apapun kalau memberi bantuan roket pasti akan diterima. Hamas juga mengapresiasi sikap Hugo Chavez dan pemimpin-pemimpin dunia yang turut mengecam arogansi Zionis-Israel.  Jadi rasa terima kasih Hamas bukan hanya ke Iran semata. Semua rasa terima kasih itu tidak lebih sebagai sebuah kepentingan politik.
Sekali lagi, yang banyak menggunakan roket Iran adalah Jihad Islam bukan Hamas. Iran benar-benar memanfaatkan ini untuk pencitraan. Kita juga harus ingat bahwa Iran mendukung Bashar Al Assad di Suriah. Bashar termasuk yang menutup kantor Hamas di Damaskus. Jadi masalah Gaza juga tidak bisa dipisahkan dengan masalah Suriah.

Bagaimana peran Mesir? lebih besar mana peran Mesir dengan Iran?
UBN: Kenyataannya yang berperan justru Mesir dan Turki. Mursy dan Endrogan punya peran vital dalam gencatan senjata di Jalur Gaza. Sekali lagi Iran hanya menggunakan momen ini untuk pencitraan di dunia Islam. Kita semua tahu bagaimana Iran membela Bashar Al Assad di Suriah habis-habisan. Padahal bantuan Iran untuk Jalur Gaza kurang signifikan. Ironis kalau Iran membela Gaza namun pada kondisi yang sama ikut mendukung Bashar Al Assad membantai kaum Ahlus Sunnah di Suriah. Bukankah Iran baru melakukan press release setelah gencatan senjata?

Seperti apa hubungan antara masalah Jalur Gaza dan Suriah ?

UBN: Keberadaan Mesir dan Turki yang kuasai oleh Al Ikhwan al Muslimun telah menjadi ancaman tersendiri baik semua kelompok anti Islam. Jika Suriah juga dipegang oleh Ikhwan atau kelompok Islam, maka sudah ada tiga Negara yang sangat anti kepada Israel mengepung Negara Zionis itu. Ini sangat mengkhawatirkan Benyamin Netanyahu. Itulah kenapa isu Suriah harus dialihkan.  Memang ada usaha pengalihan isu Suriah. Dengan adanya Gaza di serang Israel perhatian dunia seketika pindah ke Gaza. Bantuan-bantuan kemanusiaan jadi lebih prioritas di Gaza. Padahal musim dingin di Suriah lebih mencekam. Sekarang kita harus menghangatkan kembali isu Suriah agar umat tidak terlena dengan gerakan Syiah.
Di Surat At Tien sendiri Al-Qur’an menceritakan keterkaitan antara Damaskus dan Baitul Maqdis. Kunci pertahanan Baitul Maqdis ada di Gaza. Namun kunci penaklukannya ada di Damaskus. Gaza, Mesir dan Damaskus ada dalam satu wilayah Syam. Bagi umat Islam di Syam untuk apa kita tinggal di Gaza jika tidak bisa shalat di Al Quds? Untuk apa kita bisa shalat di Al Quds tapi tidak bisa membebaskan Al-Quds? Dan untuk apa kita membebaskan Al Quds tapi sekitar tanahnya masih di jajah Zionis Israel? Ruh ini sudah tertanam di Gaza hingga Suriah. Ini perang akhir zaman, dan faktanya Zionis akan selalu jadi musuh bersama umat Islam.*
sumber : http://www.hidayatullah.com

0 komentar:

Posting Komentar